sepotong kisah yang tenggelam

                 ”Saya lihat orang asing mulai banyak menguasai perdagangan, sementara kalian mulai meninggalkannya (karena telah menjadi pejabat di daerah dan mendapat harta ghanimah), Jangan kalian tinggalkan perdagangan, nanti laki-lakikamu bergantung dengan laki-laki mereka dan wanita kamu bergantung dengan wanita mereka”.  -Umar bin Khaththab

                Di tengah tengah lautan peluang bisnis hari ini, berbagai model dan starategi bisnis ramai dicuba, dicontoh,  dan diikuti.  Banyak inspirasi yang kita jumpai dari hasil membaca, pengalaman peribadi,  ataupun hasil ta’bir sendiri. Di antara banyaknya tokoh- tokoh entrepreuneur muda,  yang menggunakan strategi bisnis bermacam- macam tersebut, tiba-tiba saya memaksakan diri untuk menulis artikel ini. Saya sangat ingin menuliskannya, sebab sejarah semakin lama semakin kelabu,  dan sudah semakin banyak pretensi serta distorsi.   Tulisan ini hadir, bukan bermaksud untuk  menaikkan imaruah peribadi, melainkan maruah dan martabat islam.  Walaupun mungkin tulisan saya tak seberapa gah menggambarkan ke-gah-an seorang tokoh yang akan saya tuliskan ini.  Semoga Allah meridhai beliau, dan beliau pun meridhaiNya.

                Tersebutlah dalam sejarah,  seseorang yang terlahir di kota makkah dengan nama abdul ka’aabah.  Dilahirkan dalam suasana makkah jahiliyyah pada tahun ke 10 setelah tahun gajah.   Beliau hidup sebagai seorang pemuda Quraisy dikota Mekah yang ketika itu penuh dengan bermacam-macam kemaksiatan jahiliah berupa penyembahan berhala maupun kejahatan-kejahatan lainnya.

                Apabila islam datang ke tengah- tengah masyarakat jahiliyyah kala itu, beliau termasuk ke dalam assabiqunal awwalun atau orang yang pertama-tama masuk islam.  Menurut riwayat, beliau adalah orang ke 8 yang memeluk agama islam.  Barulah setelah masuk islam, beliau berganti nama menjadi Abdurrahman bin ‘Auf.   Sebagai seorang Islam yang permulaan, Abdul Rahman Bin Auf juga telah mengalami berbagai penderitaan dan penyiksaan dari masyarakat Quraish di Mekah.   Oleh kerana memandangkan keadaan kaum Muslimin yang sangat sedikit itu sementelahan pula mengalami berbagai macam ancaman maka Rasulullah s.a.w akhirnya telah memerintahkan para pengikutnya supaya melakukan hijrah ke negeri Abbysinbeliaukerana menurut Rasul disana ada sebuah kerajaan yang tidak berlaku zalim terhadap rakyatnya.

                   Tidak lama kemudian maka berangkatlah rombongan pertama yang melakukan hijrah yang terdiri dan 10 orang lelaki dan 4 orang wanita dan 17 wanita serta anak-anak.   Dan diantara yang melakukan hijrah yang terdiri dan 10 orang lelaki dan 4 orang wanita lalu disusul dengan rombongan kedua yang terdiri dan 83 lelaki dan 17 wanita serta anak-anak.   Dan di antara yang melakukan hijrah tersebut termasuklah Abdul Rahman Bin Auf.

                  Setelah beberapa waktu tinggal di abbysina atau disebut juga habasyah,  beliau dan para sahabat yang lain pun kembali ke makkah.  Tidak lama setelah itu datanglah perintah untuk kembali berhijrah ke yastrib atau madinah.  Abdurrahman bin Auf radhiallahu ‘anhu, salah seorang yang berangkat hijrah ke negeri Madinah dari Mekah tanpa berbekal apapun, beliau melangkah menuju Allah dan Rasul-Nya.   Sesampainya para sahabat di Madinah, masing-masing mendapatkan seorang rekan dari penduduk Madinah yang dijalinkan persahabatan mereka oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.   Abdurrahman bin Auf mendapatkan rekan Sa’ad Bin Rabi Al Anshariradhiallahu ‘anhuma. Saking kuat persahabatan yang dijalinkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam antara mereka, Sa’ad bin Rabi’ serta merta berkata pada Abdurrahman.   “Silahkan ambil separuh hartaku untukmu.”   Namun, apa jawaban Abdurrahman? Beliau menolak dengan halus seraya berkata, “Terima Kasih, Semoga Allah memberkahi hartamu, tunjukkan saja padaku di mana letak pasar!”.  Sejak saat itulah beliau memulakan perniagaannya, dan menjadi usahawan.

Tanpa modal awalnya.  Namun sejarah kemudian mencatat ketika beliau meninggal 32 tahun kemudian ( 32H ), dbeliaumeninggal sebagai konglomerat terkaya di negeri Islam saat itu.  Warisan yang ditinggalkan kepada setiap seorang istrinya adalah 80,000 Dinar, sedangkan dbeliaumemiliki 4 orang istri dan sejumlah anak.  Bila seorang suami meninggal sedangkan dbeliaumemiliki anak dan istri, maka warisan seorang istri hanya 1/8 dari harta yang ditinggalkannya. Bila istrinya 4 maka untuk masing-masing istri adalah 1/8 x ¼ atau 1/32 bagian.  Karena setiap istri mendapatkan 80,000 Dinar, maka harta yang ditinggalkan Abdurrahman bin ‘Auf saat itu adalah 80,000 x 32 atau 2,560,000 Dinar atau sekitar Rp 4.6 Trilyun untuk nilai Dinar saat ini atau RM 1.54 triliyun.

Di awal bisnisnya ketika hijrah dari Makkah ke Madinah,  Abdurrahman Bin Auf berperanan  dalam perniagaan dengan berdagang unta.   Ada yang menarik dalam strategi perdagangan yang diterapkan oleh Abdurrahman Bin Auf, yakni beliau membeli unta-unta terbaik, dengan harga yang bagus, kemudian menjualnya dengan harga pokok,  atau kita sebut harga beli, yang hanya mengkalkulasi biaya operasional dan kenaikan harga, selebihnya, beliau tidak mengambil keuntungan secara signifikan.    Dengan strategi ini, yang dalam konteks pemasaran kreatif kita sebut dengan bottom-price marketing,   unta dagangan Abdurrahman Bin Auf laku luar biasa,  darimana beliau mendapat keuntungan ?

Ternyata beliau mendapat keuntungan justeru dari produk pelengkap, yakni tali pengikat unta, yang dibuat dengan kualitas yang baik, dan dijual dengan harga yang menguntungkan.  Meskipun harga tali unta itu hanya satu dirham, tapi karena beliaumenjual 1000 ekor unta, maka seharian itu beliaumendapatkan untung seribu dirham.  Bottom-price marketing , menekan keuntungan di satu sisi, dan menangguk keuntungan dari sisi yang lain.

Sejak saat itu, beliau memberi pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik, sehingga Allah melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Suatu hari beliau menjual tanah seharga 40.000 dinar, kemudian membagikan semuanya untuk keluarganya yaitu Bani Zahrah, untuk Ummahatul Mukminin, dan kaum fakir dari kalangan kaum muslimin.  Suatu hari beliau memberikan untuk pasukan kaum muslimin se-banyak 500 kuda. Pada hari yang lain, beliau memberikan sebanyak 1500 unta. Ketika wafat, beliau mewasiatkan sebanyak 50.000 dinar di jalan Allah.   Beliau  mewasiatkan untuk masing-masing orang yang masih hidup dari peserta perang Badar mendapat-kan 400 dinar di jalan Allah. Sampai-sampai Imam Syahid Utsman bin Affan RA mengambil bagiannya dari wasiat tersebut seraya berkata, “Harta Abdurrahman adalah halal dan bersih, dan menikmati harta tersebut menjadi kesembuhan dan keberkahan”.  Karena itu dia berkata, “Penduduk Madinah semuanya adalah sekutu Ibnu Auf berkenaan dengan hartanya… karena sepertiganya ia pinjamkan kepada mereka, sepertiganya untuk membayarkan hutang mereka, dan sepertiganya lagi ia sampai-kan dan berikan kepada mereka.”             

                Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad saw  mengatakan, “Hendaklah kamu berdagang, karena di dalamnya terdapat 90 % pintu rezeki (H.R.Ahmad).

                Kesimpulan yang ingin saya tekankan adalah bahawa ummat menunggu sosok sosok Abdurrahman baru, yang berani memulai, tidak mudah menyerah, jujur dalam berniaga, cerdas dalam berstrategi, serta menjalankan Corporate Sosial Responsibility dengan tangguh. Yang kesemuanya itu akan memberikan kesan terhadap kontribusi kita yang lebih besar lagi terhadap agama ini.

                Pada akhirnya , saya berharap tulisan ini dapat menjadi sarana pembuka mata bagi siapapun yang mebacanya.  Khasnya untuk ummat islam saudara seiman saya.   Perjuangan atau jihad, hari ini telah dimaknai secara luas.  Jika perdagangan atau perniagaan kita bermatlamat untuk memajukan ummat, mensejahterakan sesame, dan mengangkat maruah serta derajat kita, semoga Allah menuliskan kita di lembaran para mujahid terdahulu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s