Aa dan Ade

Bismillahirrahmaanirrahiim…

“kita balik modal ya mi” suatu hari gumam abi pada ummi di sisinya..MasyaAllah, awalnya saya tak mengerti maksud ‘balik modal’nya abi, tapi akhirnya kata itu dapat sempurna saya mengerti. dalam. begitu dalam. anak-anak abi dan umi sudah besar sekarang, mereka yang sudah ‘dilepas’ dari rumah sejak usia 12 tahun. mencari kehidupan, memaknainya, dan menemukan jati dirinya . entah, angin apa yang membuat umi abi tak pernah ragu melepas kami di usia semuda itu, yang kebanyakan orang tua lain, kadang tak tega, alhamdulillah umi abi sangat tega pada mereka. pesantren, yap! anak-anak umi abi dilepaskan dari rumah dan ‘dikerangkeng’ di pesantren…saya begitu seram membahasakannya agar pembaca bisa ikut merasakan, betapa berat sebenarnya ,menjalani kehidupan di sana, jauh dari umi abi, jauh dari hiruk pikuk dunia. Karantina kehidupan. walaupun adik mereka , sang memorizer , begitu mereka menjuluki azzam, adik terakhir yang amat disayangi, umi abi tak melepasnya terlalu jauh. mungkin ini juga salah satu hikmah yang Allah titipkan, agar umi abi tidak kesepian, agar umi abi masih memiliki pelipur lara di rumahnya….dan lebih penting dari semua itu, sebenarnya Allah ingin menitipkan pada umi dan abi mata air pahala yang banyak….agar umi abi bisa mendapatkan pahala sebanyak yang mereka mau,sekehendak mereka. ya, menjaga azzam tetap di dalam ‘rumah’..tak melepasnya terlalu jauh. tak ingin berpanjanglebar, maka setelah sebuah kesempatan membawaku’pulang’ ke rumah , ke pangkuan umi abi hari raya kemarin, merupakan sebuah kebahagian  yang mendalam. teramat. dapat mendengar lagi celoteh azzam, dapat mendengar lagi bisikan batin kebahagian umi abi. umi abi bukan tak bahagia, 2 orang anaknya pergi, tapi setidaknya kepulangan hari itu bisa mengobati rindu yang saya yakin cukup membadai. saya berpisah selama 6 tahun, mundzir 5 tahun.

begitu juga sebaliknya, saya begitu merindukan umi abi dan azzam. walaupun kami sebenarnya tetap menjalin komunikasi menggunakan sarana apapun yg ada, tapi tetap saja pertemuan jasad, sedikit banyak mampu menghadirkan kepuasan yang tak sekedar. mendengar azzam yang bercerita tanpa henti, mungkin azzam mencoba memanfaatkan the momentus moment ini, kapan lagi cerita sama teteh pikirku…atau saya keGRan? gapapa kan?

di sela-sela kesibukan bersilaturrahmi di hari raya, hiruk pikuknya, pendiamnya seseorang juga amat saya rindui. mundzir. nun jauh di sana, negeri anak panah, mesir. ah, kapan kita bisa bercerita lagi A? cukup paradoks, di hari raya yang berbahagia dengan kehangatan silaturrahim yang terjalin, ada secebis kesedihan krn tak dapat menemukanmu di keramain orang tadi dzir……tapi ini masih dunia,tiba2 saya terpaksa tersadar, maka saya berdoa, ya Allah satukanlah kami kembali  di akhirat, syurgaMu.

Terimakasih telah memanggilku teteh

di setiap senyum manis akibat keriangan tak terkira ketika aku datang menjengukmu  di pesantren dzir
terimakasih zam, di setiap celoteh kata yang bejuta2 itu,  sehingga ‘rumah’ umi dan abi tak pernah kosong, termasuk hati teteh juga
azzam ga pernah marah
mundzir tak pernah banyak bicara

maafkan untu setiap waktu yang terlewat tanpa memperhatikan kalian, belum sempat mengayomi kalian dengan sepenuhnya….
aaaaaah kangen kalian………teteh pengen ketemu kalian serius!!!!!

Ingin liburan yang lebih lama…lebih panjang..ingin lebih banyak waktu  bersama kalian…..

Inget es durian itu kan? Atau inget waktu kita main petak umpet di gramedia gara2 azzam ngambek pengen buku resep masakan kan?

dumtum fii ri’aayatillah…Aa dan ade….

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s