ummi?

Bismillahirrahmaanirrahim

Beberapa waktu kadang ingin sekali menjadi orang yang lebih dari biasa. Menjadi perempuan yang terdepan dalam kontribusi, terlebih dalam dakwah. Ingin seperti sosok2 ummahat itu…yang kebaikan mereka bahkan dikenali di antara penduduk langit…kadang kita ingin menjadi ibu dari seorang Muhammad al fatih, atau sholahuddin  al ayyubi..ingin jadi seperti ibunda aisyah…kadang melangitttttttbanget…..sampai lupa dimana kaki ini berpijak….

ah tiba tiba saja,terputus angan tadi setelah sadar, bahwa seperti kata teman saya azka azizah di atas ada langit ,yang kita pijak ini bumi. Ah benar sekali…segera saya menyadari bahwa saya harus berfikir realistis. Sosok imam syafii,imam hebat itu, tak mungkin terlahir dari seorang ibu yang biasa saja,,apalagi dari ibu yang tidak dapat mewarisi kebaikan2 itu…. pasti uminya Muhammad al faith,umminya imam syafii, umminya sholahuddin  adalah sosok2 yang memang senantiasa menjaga kebaikan sepanjang hidupnya…sehingga kebaikan2 itu bisa mereka wariskan bahkan lebh dari itu.mereka arsitek peradaban!! Mereka ikut serta membangun sejarah! Anak2 mereka, yang namanya kita kenal sepajang sejarah itu, telah mewarisi kesholihan ibu2 mereka, kebaikan2nya, dan mereka menjadi anak2 ajaib,,,mewarnai perjuangan din ini….dan akhirnya  saya  selalu tersentak, setelah menyadari bahwa saya….masih jauh sekali tentunya  dari sosok umi2 itu…..ya Rabb…

setelah itu, lebih dari ketersentakan kedua di paragraph sebelum ini, saya kembali tersentak, mengingat  kata2 ali bin abi thalib ra keikhlasan itu, umpama semut hitam,berjalan di atas batu yang berwarna hitam, di waktu malam yang gelap. Dari sinilah, saya menyadari (lagi)bahwa ada yang lebih harus kita utamakan, ada yang perlu dikoreksi dari dari imaji2 langit tadi…tapi tanpa membiarkan idealisme  kita  tersungkur jauh ke dasar lautan….kita masih tetap berpijak di atas tanah, bumi Allah..realistis tapi tidak kehilangan sepenuhnya idealisme kita. Dan keikhlasan adalah jawaban pertama yang membatin dalam hati saya waktu itu….akankah kita menjadi kontributor hanya untuk pandangan manusia? Faham ga? Gini, tujuan kita mendidik anak2 kita nanti bukanlah untuk menjadikan mereka tokoh yang hebat, yang dikenali orang sepanjang masa, saya juga yakin,ummi alfatih,ummi sholahuddin, jauh dari niatan ini. Leboh mulia dari itu, ummi itu pasti meniatkan ‘mendidik’ adalah murni untuk melahirkan generasi rabbani, yang suatu saat akan menjadi ruh baru di tubuh ummat. Itulah perlunya tajdiidunniyah….perbaharui niat,……ikhlas….

 

ummu thariq,9 spetember 2013

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s